It's all about my words

December 1, 2009

Girl with Faithful Heart (part 7)

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 8:59 pm

“Mereka membuatku kembali tersenyum dan bertahan untuk selalu berdiri..”
**

Sam menutup kitab sang gadis taat. Membawanya tetap dalam dekapan eratnya. Ia tahu Tuhan melihatnya. Tapi, bukan Karena itu ia memutuskan untuk mendekatkan jantungnya dengan kitab sang gadis taat. Bukan karena Tuhan melihatnya, bukan karena dua bumi yang dipikulnya sendirian, bukan karena algojo-algojo Tuhan yang berdiri gagah didepannya dengan gada, sabit, pedang, rantai, dan sepasang mata ber-iris merah yang dipagari duriduri penepis kata “ampun”.. dan bukan karena kepercayaan yang pernah diajarkan sang gadis melalui kitabnya. Kitab yang sekarang menjelma menjadi arteri lain bernama keikhlasan yang mengalirkan darahnya dari jantung menuju tempat bernama kedamaian. Ya, karena ada udara segar yang menyentuh tempat itu.

Ia berharap bisa tersenyum malam itu di atas lantai kamarnya sambil memandang jauh melewati kaca cantik bergaun biru. Matanya memicing, dahinya berkerut.. ia berdoa akan ada beberapa titik yang membelalak disana atau ada satu senyuman dari kerabat jauh tawa riang sang ahli penerang bumi. Ia ingin melihat para penghibur yang dianugerahkan Tuhan untuk sang gadis. Ia ingin menghirup udaranya, ingin mendengar nyanyiannya, ingin melihat kilauan tariannya, ingin menyentuh kekuatan yang ditaburkannya dan ingin mengecap empedu manis yang disulapnya. Sayang, Tuhan sedang menyimpannya di kotak harta karun. Mungkin Ia sengaja menyembunyikannya, seperti para sahabat yang menyimpan tawa dan kadonya sampai hari ulang tahun. Karena di hari itu tawanya akan menjadi lebih riang dari hari biasa dan kadonya akan menjadi lebih banyak ucapan syukur akan rencana indah yang telah Tuhan siapkan.

Sam mengangguk, mencoba untuk mengerti maksud dari kelamnya langit malam itu. Mungkin sebentar lagi akan menangis. Ya, langit juga butuh menangis. Besok Sam akan berdiri lagi di atas lantai kamarnya dan memandang jauh melewati kaca cantik bergaun biru (mungkin juga sudah berganti warna, tergantung ibu). Sebuah pengulangan yang menyenangkan untuknya.

Lalu ia duduk. Hampir saja lupa kalau ia sedang haus, tadi tenggorokannya sempat sakit karena menelan satu kisah bulat-bulat. Anggukannya tadi membuat rasa sakitnya sirna. Sekarang ia haus dan halaman berikutnya akan memberikannya secangkir air dingin.
**

Kali ini matanya terpejam dalam sedalam-dalamnya. Mencoba mengartikan napasnya yang berulang kali memaksa keluar masuk, mendesak keinginan peluh di matanya untuk terjun meninggalkan jejak sang penakluk kesenangan. Lalu ia membentuk bulan sabit. Merangkul terang di atas wajahnya yang sedang kelam. Sebuah anggukan mengantarkannya pada keyakinan yang lebih kuat. Kenyataan menantangnya untuk merajut kisah baru yang lebih indah. Hatinya yang taat selalu berhasil membungkam angkuhnya kenyataan yang tak pernah menepi dan selalu menghadang jalan keikhlasannya.

Ia memalingkan wajahnya ke kitabnya yang menganga tepat di halaman yang masih kosong, menanti untuk lagi-lagi diangkat derajatnya menjadi bibit tanaman hijau bernama semangat, keyakinan, ketaatan dan kebahagiaan.

Terkadang ia menulis tentang apa yang selalu dilihatnya, bukan sekedar apa yang dirasakan dan dirindukannya. Ia menumpahkan arti dari matanya yang terpaku lurus ke depannya; tubuhnya yang mematung kaku, seakan-akan tubuh itu bukan lagi miliknya ; bibirnya yang tiba-tiba membisu meredam keinginannya untuk berkata-kata dan jantungnya yang dengan lincah menari dan berjingkrakan di dalam dadanya yang sudah dilapisi dengan doa dan harapan. Ia menyelami setiap keindahan yang membuat dunianya seakan-akan tunduk pada bayangan yang tertangkap oleh retina matanya.

Satu-satunya hal yang bias ia lakukan hanyalah mengingatkan dirinya kalau ini hanyalah kenyataan yang selalu menantangnya. Ini adalah segenggam inspirasi yang mengguyur hatinya dengan lembut, menjadikannya lebih berharga dari yang ia rasakan. Ini adalah sebuah drama. Ia tak punya kekuatan untuk ikut campur di dalamnya. Saat tirai itu dibuka, yang bisa ia lakukan hanya duduk tenang sambil minum segelas asesoris kehidupan. Menangis saat kesedihan mendominasi panggungnya, tertawa saat badut-badut panggung menguasai lantai-lantai berkarpet hitam, diam saat segalanya menjadi normal. Ia tak punya kemampuan untuk datang ke atas panggung, setidaknya sampai ada yang mengundangnya, kalau tidak ia tidak lebih dari sekedar gadis yang mengacak-acak kesenangan banyak orang.

Entahlah, ini sebuah keluguan, kebodohan atau hal yang tepat untuk dijalaninya. Sang gadis tak pernah mengerti. Ia hanya menuruti keinginannya untuk tetap menjadi manusia yang taat. Ia mungkin adalah manusia paling pasif sedunia, ia mungkin tak pernah menunjukan sesuatu yang sebenarnya membawa kesejukan dari angin surga. Ada hal yang membuat kitabnya bersih dari setitik noda, ia menjaganya dengan apik dan hati-hati. Ia tak pernah berniat untuk membuktikannya. Cukup kitabnya saja yang merekam semuanya. Ia memilih untuk menyembunyikannya di dalam kotak yang ia bungkus dengan kain dan ia kubur di dalam tanah yang ada di dalam samudra.
**

“Seandainya aku dapat mengatur kehidupan yang menggerayangiku, aku akan membuatnya tepat seperti apa yang aku rasakan dan alami selama ini..”

To be continued~

Girl with The Faithful Heart (part 6)

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 8:55 pm

“Aku ingin seperti pohon yang diam, berdiri setia di tempatnya.. seharusnya aku bisa membawa angin segar untuk mahluk lainnya dan membuatnya sadar bahwa aku ada dan terancam..”

**

Sang gadis taat sering melihat hitamnya langit saat tak satupun cahaya mentari menyentuh dinginnya bentangan tinta hitam yang tak pernah jelas rautnya.

Ia selalu menghitung titik-titik putih yang tekadang membelalak menunjukkan sisi indahnya yang membuatnya berhenti menghitung untuk sekedar mengartikan terangnya.

Matanya selalu layu, meskipun bibirnya tersenyum mengikuti gerak-gerik pena yang digenggamnya di atas kitab. Hal yang mampu mendefinisikan setiap titik putih yang dengan anggun membungkuk seperti pangeran yang mengajak putrinya berdansa, menawarkan diri menjadi teman sejati saat mendung menghampiri wajahnya dan berterima kasih akan cerahnya hitam yang dihinggapi bulan sabit.

Sang bulan dan titik-titik putih bernama bintang itu tak pernah tahu apa yang membuat kedua bola matanya basah, kedua kelopaknya sembab dan rona merah yang menendang bantalan pipi dan ujung hidungnya. Yang mereka tahu hanyalah keikhlasan untuk menjelma menjadi berbagai nyanyian yang mengiris hati dan memaksa perasaan untuk menari-nari di atas sedikitnya rasa bahagia yang selalu ditutupinya dengan menuliskan berbagai kalimat indah, doa-doa, lagu-lagu dan menempatkan kebisuan yang memancarkan rasa syukur.

Sang gadis tak pernah berhenti menunduk, tersenyum, memejamkan matanya dan menyentuh dadanya sambil berkata “terima kasih” pada dinginnya hitam dan para penghibur hebat yang digantungkan Tuhan dengan anggun, yang memanjakan mata dan memeras peluh-peluh hatinya yang pahit dan mengubahnya menjadi manis. Inilah yang sering dijadikannya tinta untuk menghiasi kitabnya yang berharga. Sesuatu yang membuatnya bertahan, tetap dengan kaki keikhlasan dan ketaatan.

**

Sekali lagi Sam membaca huruf-huruf indah yang selalu memaksanya untuk membangun dunia baru di dalamnya. Dunianya. Kali ini membuatnya sesak. Sekali setelah sekian kali dibuatnya terkagum. Ada yang sesuatu tercekat di tenggorokannya. Ia haus. Ia ingin meneguk kisah lain yang mampu meralat kisah yang baru saja ditelannya bulat-bulat.

**

“bulan dan bintang mengangkat kepalaku yang tertunduk kaku melihat darah yang mengalir dari tanganku, terpesona pada merahnya dan basah disentuh air yang keluar dari mataku. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang membuatku menggenangi wajah dan menyeka pedihnya dengan air mata. Mereka membuatku kembali tersenyum dan bertahan..”

~to be continued

 

July 27, 2009

Girl with The Faithful Heart (part 5)

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 5:52 pm

“.. aku percaya bahwa aku adalah ratu dari hatiku yang sesungguhnya merupakan perwujudan dari pikiran-pikiran manusia biasa yang kritis dan penentang.. Karena aku adalah ratu bagi diriku, aku akan membuatnya terus membangun benteng kepercayaan..”

**

Tataplah lekat-lekat pada apa yang ingin tanganmu gapai..

Apa yang ingin kakimu capai..

Apa yang ingin tubuhmu peluk..

 hingga hal indah itu rela berbaring menemani setiap lelahmu, berlari di setiap jejak bahagiamu dan mengubah setiap tetes keringat yang keluar dari hangatnya perjalanan waktumu menjadi tinta emas yang menghiasi kitab hidupmu yang berharga.

Sam menggumam lirih sambil memejamkan matanya saat sepenggal kalimat baru meluncur dari dalam kitab dan menggempur setitik bagian dari pikirannya yang masih muda. Menikmati setiap kerenyahan makna yang dapat ia tangkap dari salah satu tulisan yang dititipkan sang gadis taat padanya.

Tuhan telah mendengar doa sang gadis. Sam percaya itu. Sejenak ia teringat pada kisah-kisah para Manusia suci yang diberi kehormatan besar berupa mukjizat yang nyata, yang bukan cerita dongeng semata, dari Tuhan.

Tidak. Sam tidak merasa dirinya pantas disandingkan dengan Manusia-Manusia suci yang pernah hidup di suatu zaman—yang tidak mengizinkannya menjadi saksi mata tentang dahsyatnya mukjizat-mukjizat yang dititipkan Sang Pencipta kepada para Manusia suci. Ia hanya ingin bersyukur karena hari itu. Ini memang tidak seperti mukjizat yang dimiliki para Nabi, tapi setidaknya ia diberi kesempatan nyata untuk melihat suatu keajaiban yang tidak dimiliki orang lain.

Bagaimanapun, kini ia adalah penjaga. Setitik noda yang jatuh di atas kitab sang gadis taat dapat menjadi alasan bagi algojo-algojo Tuhan untuk mematahkan satu demi satu jemarinya. Sam yang masih kecil memikul dua bumi di atas pundaknya sendiri. Seperti kata sang gadis, yang penting adalah percaya. Satu kalimat yang ia baru saja ia pelajari itu sudah merasuk, menjadikannya bukan lagi sekedar sesosok tubuh yang kecil yang hanya bisa menghitung, mengangkat tangan dan membuat hati seorang guru sekolah dasar bangga. Ia menjelma menjadi bakal lelaki perkasa yang berbicara dengan mahkota kepercayaan yang membuatnya dapat mengubah api menjadi es dan udara menjadi batu bila kepercayaan yang dijaganya terancam.

Sam memastikan kitab itu tetap berada di dekapannya. Ia akan menjaganya seperti cerita yang pernah ia dengar lewat kitabnya, lewat senyum sang gadis dan lewat gurat-gurat dalam di wajah dan tangannya yang menandai suatu kesetiaan yang abadi.

**

Ia harus meninggalkan semua musang berbulu domba yang masih dengan teliti memeriksa setiap bagian dari rumah sang gadis taat yang sudah tertutup debu tebal. Bahkan setiap kotoran yang menyelimuti perabotan, lantai dan dinding sang gadis menjelma menjadi serpihan-serpihan emas yg rontok dari jubah seorang ratu. Mereka mendekatinya dengan wajah paling hina yang datang dari sebuah kata “serakah”.

Sebelum sejuta mata mendelik, Sam sudah kabur.. meninggalkan kehangatan dan tubuh kaku sang gadis yang sudah tak berdaya.

Ia berlari sambil memeluk kitab itu.. langkah kakinya disambut hangat oleh rumput-rumput  yang masih basah dan kerikil-kerikil tajam yang berkali-kali harus membuatnya meringis. Sejenak ia menyadari sesuatu. Ia mungkin sudah hapir membuat orang tuanya gila sekarang. Semalam ia tidak tidur di atas tempat tidurnya yang hangat, yang selalu disiapkan ibunya untuk seorang anak laki-laki yang membanggakan dan satu-satunya. Sam merasa bersalah. Untung saja ia tahu kemana arah pulang.

**

Air mata Ibunda Sam hampir tumpah setelah lama menggantung di dalam kantung matanya yang tegambar jelas di kedua matanya yang lelah dan merah. Sesosok Sam tidak membuatnya dengan segera tersenyum, tapi Ibu memeluk sam dan memukul lembut punggungnya sambil tak than meneriakan beberapa kalimat yang berarti murka, hanya saja suaranya yang gemetar membuat Sam tersenym dan tak ingin berhenti memeluk Ibunya yang dilanda kekhawatiran hebat semalaman. Sam tersenyum. Ia bersyukur karena Ibunya marah dan hampir menangis. Sesuatu merasukinya dan semakin erat memeluk Ibu dan kitab san gadis taat.

“kenapa kau tak pulang bersama Thomas?!!”

“aku mengejar layang-layang.. Kemarin ada badai dan ia menerbangkan layang-layangku..”

“Itu hanya sebuah layang-layang, Sam! Kau tidak seharusnya membayar sebuah layang-layang dengan kekhawatiran orang tuamu..”

“Tapi, aku tak ingin  kehilangan hadiahku.. Aku menyayangi Norway, bu.. Ayah bilang ia harus bekerja keras mendapatkannya.. “

“Lalu, dimana layang-layangmu?”

Sam terdiam, ia mungkin sudah melupakannya.. lagipula Norway sudah rusak dan ia menyesal.. Ia tahu ibu akan berpikir kalau ia telah melakukan hal yang sia-sia. Tapi, Ibu tidak tahu hal berharga apa yang sudah ditemukannya semalam. Ia mungkin kehilangan Norway, tapi ia mempunyai sesuatu yang jauh lebih hebat, yang membuatnya berpikir lebih dewasa dan membangun mentalnya sekuat baja.

Ayahnya datang dengan keringat bercucuran dan membasahi bajunya.. Napasnya tersengal.. Ia seperti baru berlari puluhan kilometer.  Ayah memeluk Sam yang berusaha menyembunyikan kitab itu dipunggungnya. Sebelum pertanyaan menderanya, Ia memutuskan untuk pergi ke kamar, beristirahat dan menyimpan kitab sang gadis di tempat yang menurutnya paling aman.

**

Seperti berada di dalam sebuah gua yang gelapnya tak pernah tersenyum pada lubang-lubang tempat sinar matahari masuk..

Sebuah titik memaksa dan mengajaknya untuk dihampiri..

Ada sesuatu yang ingin diceritakannya, ada banyak hal yang harus dicarinya..

Setumpuk kertas berisi tulisan itu bukan berarti benda mati yang bisu..

Titik terangnya minta dipahami dan ditemukan untuk bisa dengan leluasa tertawa menyinari setiap kegelapann yang selama ini diselimuti dengan sempurna..

Hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan gadis itu lewat kitabnya yang sekarang tak perawan lagi, dinodai seorang bocah laki-laki yang sebenarnya masih lugu..

Sam senang menyendiri di kamar, menyisir tiap serat-serat yang keluar dari dalam kitab, berharap dan berdoa seperti yang diajarkan kitab itu, mencari sesuatu yang bisa dibagi dan dikisahkan pada sesuatu yang tepat. Ia pun membaca, membaca dan mencoba mengerti dan mengartikan setiap belaian yang ditunjukan di semua kalimat-kalimat indah itu..

“Apa yang sering aku lakukan selama hidup di alam itu adalah berpura-pura.. Aku hanya seekor burung yang lepas dari sangkar emasnya yang berpura-pura menjadi seekor musang yang senang mengelabuhi.. Bukan karena suatu muslihat tapi karena suatu amanat yang sudah terlanjur tertanam kokoh di diriku.. Terkadang aku membenci itu dan untuk menjadi berani di dalam dunia itu adalah hal yang mustahil bagiku.. Aku ingin seperti pohon yang diam, berdiri setia di tempatnya.. seharusnya aku bisa membawa angin segar untuk mahluk lainnya dan membuatnya sadar bahwa aku ada dan terancam..”

 tree1

~To be continued

July 13, 2009

Kodrat Cinta

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 10:47 pm

Ku terpaku pada kekuatan yang ditunjukan cinta pada manusia di dunia..

Entah sudah beberapa kali ia menyombongkan diri di hadapanku..

Menggumamkan kata-kata yang menenggelamkan rasa angkuhku..

Menyanyikan lagu-lagu kemenangan di atas podium hati..

Dan mengejek kekalahan atas segala tantangan yang kubuat..

Kuakui dengan lantang dan besar hati..

Ia selalu menang, selalu bisa berteriak riang di setiap akhir pertandingan

Dan kupu-kupu di taman menghampiriku..

Menasehati kekakuan yang selama ini duduk di bangku jiwaku

Membuatku memberikan senyum manis

Dan mengucapkan kata-kata peluruh kekecewaan

 

Ia yang bisa membuatmua terjaga..

Dari siang hingga kembali siang..

Ia yang bisa membuatmu nyata..

Dengan ikhlas di hadapan yang dipuja

Ia yang tahu apa artinya sebuah nama..

Yang terlukis jelas di jurang hati..

Dan Ia yang akan membawa semua khayalanmu nyata dan berarti

 

Karena cinta tak akan menyerah dan mengalah

Karena cinta terlalu kuat untuk dijatuhkan

Merekahlah bunga-bunga dunia bila cinta itu ada

Tumbuhlah pohon-pohon bimbang di hutan pujangga

Dan kupu2 datang menghampiriku

Menasehati kekakuan yang selama ini duduk di bangku jiwaku

Membuatku memberikan senyum manis

Dan mengucapkan kata-kata peluruh kekecewaan

 

Jakarta, 10 juli 2009

Dewi Wening Sawitri

MOODY..

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 10:45 pm

Seharian kugumamkan kata-kata sadis yang menyayat jiwa sendiri..

Menyakiti setiap rusuk yang tertanam kokoh di dalam tubuh..

Aku menyadari kalau ada peluh yang memaksa mendobrak keluar jendela mata..

Lalu seluruh otakku mengendalikan raga menjadi gila..

Segala memori terangkat sempurna kembali, terutama yang pahit dan mengharu biru..

Nafasku berulang kali mendesah kuat, tanda lelah..

Tanda ada sesuatu yang salah dalam diriku..

Tanda bahwa aku bisa berubah sekejap saja bila emosi datang menggelora, mensabotase akal dan pikiran yang biasa menaungi anak-anak bangsa yang berakal..

 

Jakarta, 9 juli 2009

Dewi Wening Sawitri

Si Sella

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 10:43 pm

Sella bersembunyi di balik kain yang melingkar di lehernya dengan anggun..

Sesekali, ia mencoba mengintip, ada apa di luar sana..

Wajahnya masih saja merah saat manusia baru mencoba menghampirinya..

Ia terlalu malu, terlalu kaku,  dan bisu saat sebuah pertanyaan sederhana melayang di telinganya..

Di depannya selalu ada sosok malaikat penjaga..

Yang  rela Ia jadikan tubuh yang tak sempurna tanpa ekor di belakangnya..

Ia mengekor.. membuntuti dan menginjak setiap bayangan yang jatuh di depannya saat cahaya menyapa dari muka..

Bahkan, tak ada yang mengerti, hati apa yang tertanam di dalam tubuh Sella..

Kesempatan seperti enggan menyapa setelah berkali-kali dipermalukan sang pemalu..

Tentu saja waktu tak pernah menyerah mendatangkan kesempatan itu..

Tentu saja sang pemalu akan mati bila harus menandingi waktu..

Begitu seharusnya.. memang begitu seharusnya..

Mungkin sebuah cermin mampu meluruhkan kuatnya akar-akar sang pemalu..

Suruhlah ia untuk berdiri di depan cermin setinggi daun pintu di penginapan homo sapiens sapiens..

Singkirkanlah malaikat penjaga dari depan wajahnya..

Jadikanlah ia salah satu pundak, dimana seorang malaikat penjaga menjadi pundak lainnya..

Saat malaikat tersenyum dan berkata, “Lihat, Sella.. Kau bahkan sudah melebihi tinggi badan ayah..”

Sella akan berpikir dan sang pemalu akan menari lincah sambil memegang minuman di dalam dirinya..

Sebelum akhirnya ia mabuk dan terjatuh lemah tak berdaya..

Saat itu sella akan keluar dari persembunyiannya dan menjadikan kain di lehernya sebagai alat penyejuk jiwa yang ia pasang dengan rapi melingkari wajah dan menutupi kepala..

Lalu, membiarkan mata dan telinga para penerka mengenalnya..

“Bukan hanya waktu yang membuatku belajar untuk keluar dari masa ‘pembodohan’, tapi sesuatu yang aku sebut dengan dorongan dari para malaikat penjaga, serta keberanian untuk melawan masa itu..”

Jakarta, 7 juli 2009

Dewi Wening Sawitri

Sayapku (tak lagi) patah..

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 10:42 pm

Sayapku sempat patah saat suatu badai menerpa..

Mengamuk di tengah khayalan semu bernama “cinta”..

Kupikir aku tak akan lagi bisa terbang, kupikir aku tak lagi bisa meluncur menembus awan..

Karena patah, sayap itu luka.. karena luka, sayap itu berdarah..

Cukup aku saja yang tahu apa warna darahnya..

Cukup aku saja yang menikmati setiap kata yang diceritakan setiap tetesnya..

Saat itu aku berubah menjadi lebih munafik dari apapun yang paling hina di dunia ini..

Setiap kataku adalah dusta..

Setiap nafasku adalah tanda kehidupan neraka yang nyata..

Setiap tawaku adalah peluh yang keluar deras dari mataku..

Aku menjadi aktor paling hebat dalam sekejap saja..

Saat kutahan sakitnya luka itu, saat kucoba obati sendiri patahnya..

**

Kuharap sebuah “mata yang sejuk” datang mengobatinya..

Karena aku tak lagi punya sesuatu yang pantas untuk disebut obat..

Karena aku sebenarnya sudah tak sanggup lagi menahan sakitnya!

Karena sekarang aku ingin berteriak!!

Aku ingin teriak hingga tiap-tiap butir kekecewaanku pergi membebaskan diri..

Aku sudah akan menyerah..

Siapa yang akan menghalangi kematianku??

Siapa yang ingin aku tetap hidup??

Siapa?? Siapa??!!!

Aku bahkan sempat tak pernah bosan menghitung setiap tetes hujan yang berpesta di bulan Januari..

Hhh.. aku benar-benar akan menyerah.. lelah.. aku lelah..

**

Mungkin bukan sepasang mata yang sejuk yang bisa menyelamatkanku..

Entahlah, di dalam bayanganku, ia tetap sepasang mata yang sejuk..

Sepasang mata yang menjadi tabib dan penasihat abadi..

Mungkin, itu hanya sesuatu yang kuharapkan..

Aku sadar, aku selalu menutup mataku yang sesungguhnya  dan selalu mendengarkan mata egoku

Bisa saja penolongku adalah sebuah tangan yang hangat..

Yang rela menggenggamku dan menjagaku..

Bisa saja pahlawanku adalah bibir dengan senyum merekah..

Yang mengusir setiap kegalauanku dengan kalimat-kalimat candanya..

Bisa saja penasihatku adalah sesosok tubuh yang utuh..

Yang rela memaksakan diri untuk melindungiku..

Dan kan ku biarkan sayapku kembali mengepak dan membawa tubuhku melayang ..

Mengitari seluruh jagad ini dan mengumumkan pada dunia..

Bahwa cinta adalah sebuah pengorbanan yang nyata..

Bukan sebuah harapan dan khayalan dalam diri semata..

Jakarta, 6 Juli 2009

Dewi Wening Sawitri

Girl with The Faithful Heart (Part 4)

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 11:47 am

                       “nb: Tuhan, jagalah surgaku di saat aku benar-benar kalah..”

Pinta itu mungkin terdengar seperti rajutan nada-nada indah yang didengar Tuhan darinya..
Sebuah kalimat sederhana yang menggema di sisi surga-Nya..
Di dinding-dinding istana, singgasana Sang Penguasa Alam semesta..

Mungkin, Tuhan tersenyum dan mengangguk, lalu berkata, “Ya, gadisku..”
Seperti layaknya seorang Raja bijaksana yang rela menyaksikan ketaatan rakyatnya, menikmatinya, hingga akhirnya menghadiahkan sesuatu yang pantas untuk keikhlasan hati rakyatnya yang sempurna..

Pintanya sama seperti doa.. sama seperti lagu-lagu yang dipimpin para pendeta, seperti doa-doa yang dibacakan para ulama, seperti syair-syair yang diwariskan sang Budha, seperti ayat-ayat yang dibaca menggema, seperti para manusia yang mengangkat kedua tangannya untuk para dewa, seperti tangisan ibunda saat anaknya jatuh sakit, seperti peluh yang dikuras ayahanda saat anaknya lapar, seperti rengekan anak kecil yang meminta layang-layang baru, seperti amarah sang kakak saat adiknya disakiti, seperti pawang hujan yang menggelar upacaranya, seperti pencuri yang mengendap masuk ke dalam rumah orang berada, seperti manusia yang kehausan, seperti si buta yang rindu akan terangnya cahaya, hanya meminta, hanya berdoa, semoga saja akan ada yang mendengar dan mengabulkannya.. Karena yang terpenting adalah percaya..
 
Sebuah kata yang tak pernah lekang dari pendirian sang gadis adalah percaya..
Kata yang membuatnya kokoh dan terus mendaki sampai setinggi ini..
Karena kepercayaannya yang nyata, yang bukan sekedar doa, bukan sekedar kata hati semata, tapi juga isi kepala dan seluruh indera di raganya menyatu, membangun suatu kerajaan yang berintikan satu jiwa.

Satu nama yang selalu ia percaya, sejak lama, sejak ia mengenal dunia sesungguhnya dan tak pernah sekalipun ia coba hapus dari benaknya yang suci..
**
Jasad itu kini seperti primadona yang mengundang banyak mata untuk dipersembahkan kepada mulut manusia-manusia bumi yang tak tahan untuk selalu diam dan membungkam..
Sebuah berita yang pantas untuk dijadikan bahan para wanita yang merindukan jilatan “manis” dari neraka.. Sebuah berita yang membangkitkan nafsu para lelaki dunia yang mencari kekayaan dan harta semata..

Siapa yang sangka, kitab gadis itu dihargai seperempat kekayaan sang raja, penguasa negeri yang fana..
Sebuah penghargaan yang tak sebanding dengan keringat sang gadis taat yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kitab itu..

Maka, seluruh manusia dari penjuru dunia datang. Mereka mengenakan topeng badut yang tersenyum ramah. Menyatakan dirinya sebagai penyumbang darah yang mengalir di tubuh sang gadis taat. Mendedikasikan dirinya untuk mengurus segala kebutuhan terakhir gadis itu. Berkata dengan lantang, “Tentu saja aku dengan ikhlas mengurus jenazahnya. Akan aku bayar dengan setengah harta bendaku—yang tersimpan rapi di istana bertahtakan emasku—untuknya, untuk gadis kami yang telah lama hilang,” sambil memasang wajah iba. Padahal, jarinya mengunci di belakang punggungnya yang bungkuk. Otaknya melompat kegirangan saat semua  orang percaya. Ia pun yakin akan menjadi lebih kaya setelah hari itu.

Matanya tak henti-hentinya menyelidik ke seluruh penjuru ruangan..
Memastikan ada sesuatu yang berharga yang ditinggalkan sang gadis, sesuatu yang bisa menghilangkan dahaga sang raja dan membuatnya lumpuh, tak mampu berjalan di kala sakunya penuh dengan logam-logam emas 24 karat.
**
Sam sudah mengerti apa yang telah menjadi tugasnya saat ini..

Sang gadis taat memberikan penghargaan yang utuh baginya..

Tentu saja untuk menjaga kitabnya.. agar tetap suci.. agar tak jatuh ke tangan yang penuh denganlumpur yang membuat segala yang disentuhnya menjadi haram.

 “Percayaku adalah diriku sendiri.. Aku memiliki kepercayaan itu seutuhnya, karena Tuhan telah menganugerahkanku suatu kepercayaan untukku tetap percaya.. Aku percaya pada apa yang diceritakan bintang-bintang tiap malam.. aku percaya pada sejuk yang dibawa cahaya mentari tiap pagi yang biru.. aku percaya pada sesuatu yang belum dan sudah pernah terjadi.. aku percaya bahwa aku adalah ratu dari hatiku yang sesungguhnya merupakan perwujudan dari pikiran-pikiran manusia biasa yang kritis dan penentang.. Karena aku adalah ratu bagi diriku, aku akan membuatnya terus membangun benteng kepercayaan yang dipersembahkan Tuhan sebagai Raja dari raja-raja dan ratu-ratu kecil di setiap hati manusia yang hidup…”

~to be continued

June 28, 2009

Pulau Bunga Matahari

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 2:35 pm
Penyair tua menorehkan sebait doa untuk dinyanyikannya malam ini..
Ia mendendangkan isi hatinya yang tak pernah tidur itu di dalam kamar yang gelap..
Diluar penuh dengan cahaya yang memaksa merasuki detiap celah ruangan yang telah ia isolasi..
dengan tumpukan kayu-kayu tua yang sengaja di pakunya dengan palu kesabaran..
Matanya sterpejam, walau di luar malam sudah menyapa..
Ia tak pernah tahu bila waktu merayap meninggalkannya di dalam ruangan yang buta..
Satu-satunya tannda bahwa ia tak buta adalah lagu di kala malamnya..
lagu yang ia gubah setiap di luar masih terang..
Syair yang ia tulis saat hatinya berkata masih ada cahaya..
Ia pun akan berhenti bila mata hatinya yang sudah tak pernah melihat cahaya sesungguhnya..

 

memantulkan bayang-bayang kegelapan yang juga berarti malam bagi harinya..
 Diluar sana pagi sperti dunia..
siang seperti surga..
dan malam seperti tempat pelepas pesan yang sempurna..
 
Ia tinggal di Pulau Bunga Matahari yang megah..
Yang setiap sinar yang jatuh di ata tanahnya aka terpantul menjadi kilauan cahaya yang menakjubkan..
Rasanya seperti tinggal di planet venus yang terang..
Negeri Pulau Bunga Matahari selalu menayapa sang penyair tua..
Ia persembahkan cahaya paling terang kepadanya yang telah menghibur malam-malam di pulau itu dengan doa dibalik suara dendangan lagunya yang indah..
Pulau Bunga Matahari merekahkann senyum..
menjaga kuantitas cahanya yang sempurna untuk sang penyair tua yang terisolasi di sabuah ruangan yang di bangun di atas Pulau Bunga Matahari

Filed under: Uncategorized — dewiwening @ 12:43 pm


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

Next Page »

Blog at WordPress.com.